1. Cara Membedakan Wartawan Belanda, Inggris dan Amerika
Setelah merdeka, segera datang pasukan sekutu yang membawa wartawan Amerika, Inggris dan Belanda. Namanya negara baru, tentu tidak ada ‘press officer’. Maka Presiden Soekarno menunjuk seorang pemuda untuk meladeni wartawan itu.
Tentu saja pelajar itu tidak berpengalaman menghadapi wartawan asing yang agresif. Apalagi ada orang Belanda yang mengaku jadi wartawan Amerika. Akhirnya petugas itu menemukan cara. Dia menginjak kaki para wartawan itu.
“Kalau orang Belanda, dia akan berteriak OW! Tapi orang Amerika dan Inggris akan berteriak OUH,” kata Soekarno .
Sebelum pergi, para wartawan itu minta izin dan surat pengantar. Soekarno bingung, surat apa? Maka dia membuat kartu asal jadi dan mengecapnya dengan sembarang stempel. Barulah wartawan asing itu pergi.
“Stempel itu tak ada artinya dan tak pernah ada yang pernah melihat sebelumnya,” kata Soekarno geli.
2. Jas pinjaman para diplomat Indonesia
Setelah Indonesia merdeka, Belanda kembali ingin kembali berkuasa di Indonesia. Selain bertempur, diplomasi di meja perundingan pun dilakukan.
Soekarno menceritakan Leimena, seorang dokter pedesaan. Selama pendudukan Jepang, Leimena tak punya baju selain sepasang pakaian dalam. Maka dia terpaksa meminjam jas dan dasi untuk menghadapi para diplomat Belanda.
“Orang-orang desa dengan baju pinjaman tiba-tiba terjun ke politik, duduk di meja perundingan berhadapan dengan wakil-wakil terhormat dari Ratu Juliana yang berpakaian mentereng. Atau melakukan perundingan dengan orang Inggris bergelar Sir atau Lord.”
“Beberapa anggota delegasi kami malahan memakai sepatu pinjaman. Dan orang Inggris dan Belanda memanggil mereka dengan sebutan ‘Yang Mulia’. Kesulitan terbesar dari para menteriku adalah menahan ketawa bila memikirkan keganjilan ini semua,” kata Soekarno .
3. Cerita Soekarno dan Presiden Mesir ‘inspeksi’ tari perut
3. Cerita Soekarno dan Presiden Mesir ‘inspeksi’ tari perut
Berbicara tentang Proklamator Soekarno memang tidak ada habisnya. Mulai tentang pidato-pidatonya yang menggugah, cerita Soekarno dengan wanita-wanita di sekelilingnya, hingga cerita lucu tentang sang proklamator.
Pernah, suatu ketika saat berkunjung ke Mesir, Soekarno diajak oleh pemimpin Mesir kala itu, Gamal Abdul Nasser untuk menonton tari perut pada suatu malam saat dia baru saja tiba di Cairo, ibukota Mesir.
Ceritanya, saat baru tiba di Bandara Cairo, Soekarno dan rombongan langsung menuju ke penginapan. Karena tidak ada acara di malam pertama, Soekarno langsung masuk ke kamar penginapan dan bergegas untuk istirahat.
Saat Soekarno istirahat, ajudan pribadi Soekarno, Letnan Kolonel Sabur tiba-tiba datang mengetok pintu. Soekarno pun memarahi ajudannya itu.
“Heh, Bur ada apa kau datang malam-malam begini? Aku kan sudah bilang mau istirahat,” kata Soekarno lantang saat membuka pintu.
Cuma mengenakan piyama, kemarahan Soekarno mereda saat melihat utusan Presiden Nasser bersama dengan Subur. Nasser pun mengatakan kepada Soekarno kalau dirinya diminta untuk menjemput Soekarno untuk melakukan inspeksi.
Soekarno heran. Tengah malam apalagi saat dia baru saja tida di Cairo dirinya diminta untuk menghadiri inspeksi. Saat Soekarno masih terbengong-bengong, Marsekal Abdul Hakim Amir melanjutkan pembicaraannya.
“Presiden kami mengundang sahabat beliau, Presiden Soekarno, untuk menginspeksi penari-penari perut di Kairo ini,” ujar Amir. Mendengar ucapan tersebut, Soekarno pun beranjak dan langsung semangat.
“Kenapa tidak dari tadi. Sampaikan kepada Nasser, Soekarno dari Indonesia akan siap dalam sepuluh menit,” kata Soekarno mantap.
Menurut salah satu putra Soekarno, Guntur Soekarnoputra, acara nonton tari perut Soekarno dan Nasser tersebut merupakan agenda tidak resmi saat berkunjung ke Mesir. Hal tersebut dia sampaikan dalam bukunya yang berjudul Bung Karno, Bapakku, Kawanku dan Guruku.
(Sumber: Merdeka.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar