Rabu, 04 Maret 2015

Puisi

KENANG KEKALAHAN

Terik mentari menghangatkan pasir pantai
Ombak menghamparkan air ke bibirnya
Saat itu dahaga memaksaku berbaring dan menikmati
Minuman dingin di sisi kiriku

Sekali-kali,
Mataku melirik ke kanan dan ke kiri
Ku lihat mereka berlari-lari dengan wajah berseri
Kejar-kejaran di pasir hangat
Dan berpelukan saat matahari mulai terbenam

Saat itu tak kuasa ku menahan kesendirian
Sepi di hati mengingatkan aku dengannya
Khayalku mulai menghidupkan 
Wajahmu, senyummu, amarahmu dan jenakamu di pikiranku
Semua cerita yang kau bagi padaku 
Tetap tertanam di ingatanku

Maafkan aku perempuanku
Aku lelaki yang belum mampu
Menunaikan bahagia untukmu
Janjiku padamu dirasuki ego yang sangat ku sesalkan

Aku berharap semoga ada ketulusan darinya
Semoga ada kenyamanan di pelukannya
Semoga dia tidak seperti aku yang kacau
Dan semoga kau bahagia dengannya. 

TAK SEPERTI MENTARI PAGI

Seperti heningnya malam tanpa suara
Sepih gelap mencekam menyelimuti
Hilang tanpa jejak dari kemarin
Dalam dunia terasa sendiri saja

Tak seperti mentari pagi jiwaku ini
Tak bersemangat untuk tetap berkarya
Hancur lebur bagaikan pecahan kaca
Yang kian halus berserakan tanpa arah

Aku menatap langit yang begitu cerah
Burung menari gembira
Menghentakkan sayap bersama – sama
Bersukaria disetiap detiknya

Namun bagaimana aku bisa seperti mereka
Bagai mana bisa bersemangat dipagi hari
Seperti burung bertaburan diangkasa biru
Hatiku kini mendung untuk selamanya
Dan mungkin takkan bisa seperti mentari lagi.

SAKITNYA MENCINTA

Kala cinta melumpuhkan logika
Dan hati tak lagi bisa membendungnya
Yang terdengar hanyalah suara hati
Menjeritkan tangis tanpa bersuara 
Merintih kesakitan akan lukanya
Tapi hati tetap mengeras seperti batu 
Menuruti ego yang tiada henti

Entahlah,tak dapat terpikirkan 
Tak akan mampu di mengerti 
Bayang-bayangmu tetap menghantui mengikuti setiap langkah kaki 
Seolah tak bisa terkendali 
Dan janji yang sempat kau ucap 
Akan tetap melekat di dasar hati 

Walau ku tahu mungkin itu hanyalah bualan belaka 
Tapi aku tetap mempercayainya 
Dan selalu berharap akan janjimu
Yang telah kuletakkan dalam asaku
Ku rangkum dalam mimpi indahku 
Mungkinkah dapat terwujud janji itu 
Atau hanya akan jadi hiasan tidurku

Haruskah aku tetap membisu 
Dengan luka yang membeku
Tapi apa daya jika hatiku meminta
Untuk selalu menyimpan namamu
Tak peduli harus terbelunggu luka
Yang kau bawa untuk menemaniku
Dan mengajariku arti sakitnya mencinta 

JAWABAN PELANGI BIRU

Biduri biru yang amat terang
Mencolok hingga serabut hatiku
Datanglah bersama singgasana
Untuk dibenci, untuk disapa

Aku lihat kain pahlawanKnmu
Halus sutra mataku terpejam
Kastil merajut pada zamrud
Dan batu permata dari Martapura

Kecubung ungu yang kau sentuh
Memukau hingga terpancar sinarnya
Jemarimu seperti serbuk-serbuk kapas
Lakukan apa yang kau percaya

Merah delima tanda keyakinan
Lambang agama yang kau pahami
Kau tekuni bersama rembulan
Jalak Bulan menemani kegelapan

Jawaban halus pelangi biru
Yang terpasang dalam wajah safirmu
Murai Batu ikut bersiul
Yang meraih satu malam terindahku

TULISAN TANPA CINTA

Riak bening air mengucur deras...
Menyatu dalam suara desah nafas...
Menyeruak paksa ia menghempas...
Terburai lepas hingga bebas tak membekas...

Kucoba tuliskan namamu diatas air itu...
Namun ia menertawakan ku dan menyeringgai pilu...
Seolah ia sedang menunggu bulan yang memantul dipundaknya itu...
Aku tau kau pun pilu...

Hati sang pujangga ini sedang berdarah...
Meski kau tak melihat luka dalam gundah...
Tak ada tinta tuk tuliskan namamu kasih...
Meski harus menahan pedih nan perih...

Aku rindu jelita auramu...
Akankah kau dengar syairku yang kutitipkan pada lebah madu...???
Syair yang tak pernah terbaca oleh manusia angkuh...
Karna mungkin merekapun jenuh...

Aku rindu kecup keningmu...
Kecupan yang membuat cerita dan selalu kutuliskan tanpa tinta dihatiku...
Agar suatu saat kau dapat membaca itu dihatiku...
Betapa aku sangat merindukanmu...

SELAMAT DATANG HARI BARU

Aku haru melihat api menyulut wajahmu 
Dulu selalu dingin yang kau tamparkan setiap kali aku merintih, 
setiap kali aku bercerita
Satupun bahasamu tak kau ucapkan , ya kan? 

Tapi apa ? Kini masa mengubahmu , haru biru hatimu selalu terlontar ketika tubuhku bergerak kesana kemari , lantunan petuahpun tak lupa kau bagi. 

Haii,, mungkin nggak itu kado kebahagiaan untukku ?
Atau mungkin aku yang terlalu mengumbar perasaan .
Waktu kian memastikan diri.

Yahh tepat sekali firasatku ini , mulutmu mulai membusa dengan sejuta riuk keromantisan 
Seperti gelatik, kicaumu riang saat kita berjalan menapaki ilalang , hilang semua senduku 
Karna kini waktu tlah membawa mu menjadi sosok yang berada satu baris didepan ku ketika aku bersujud

KUCINTAI KAU DENGAN SUNAHKU

Awan mendung meyapa malamku
Dikala hati sedang merindu parasmu
Paras elok berbalut kain pelindungmu
Melindungi syahwat dari nafsu celaka

Paras yang sepanjang waktu aku tunggu
Paras yang selalu membuat aku tak sanggup menatapnya berlama-lama
Bukan aku tak bisa,aku hanya tak sanggup merendahkannya
Merendahkan paras mulia dengan mata penuh dosa

Kau tercipta dari tulang paling dekat dengan hatiku
Tempatmu sungguh mulia lagi jauh dari noda dunia
Jangan kau berkecil hati karenanya
Lebih baik kau malu didunia,daripada malu dihadapan-NYA

Sampai saat nanti tiba waktunya
Waktu aku ucapkan kata didepan saksi dan penghulu
Saat itu pula kau halal bagiku
Halal dalam segala sunah dan wajib ku

Biarlah sekarang aku hanya merindu
Merindu sosok istimewa dari Tuhanku untukku
Tugasku menjagamu dalam setiap langkahku
Melindungimu dalam setiap cobaan gelora jiwa mudamu

Tidak ada komentar: